Cita-cita anak tetangga


Restoran itu dimiliki suami istri. Perempuan pemilik restoran itu cerewet, sedikit
pelit, selalu marah-marah, dan tak
pernah putus mengomel. Nyaris apa
yang dilakukan karyawan restoran itu
tidak ada yang benar.
Suaminya agak pendiam, tetapi sekali
memberi perintah, aroma ancaman
sangat terasa. Sehingga, walaupun
tidak banyak bicara, kalau suami
pemilik restoran itu mengatakan
sesuatu, artinya dia tidak ingin
karyawannya berlama-lama
mengerjakan perintahnya.

Karena mungkin tak cocok shionya,
suami istri ini sering tidak kompak.
Perintah sering tanpa koordinasi,
sebaliknya bisa jadi tumpang tindih.
Mereka termasuk tipe pemilik yang
tidak pernah bersyukur dan
menghargai hasil karya anak buah.
Berterimakasih saja tak pernah,
apalagi memikirkan imbal hasil yang
proporsional antara pekerjaan dan
kompensasi.

Begitu kira-kira keluhan anak tetangga
yang ingin meninggalkan pekerjaan
yang sudah ditekuni hampir tiga
tahun. Ketika ditanya apa yang akan
dikerjakan setelah meninggalkan
restoran itu, dia menjawab dengan
yakin: “Saya ingin buka warung
sendiri.”
Rupanya, selama dua tahun, diam-diam
anak ini mempelajari berbagai resep
masakan yang menjadi unggulan
restoran tempat dia bekerja. “Siapa
tahu suatu ketika warung saya akan
jadi sebesar restoran majikan saya
selama ini. ” Begitu cita-citanya.

Untuk memberi motivasi kepada anak
ini, saya ceritakan sejarah berdirinya
kedai kopi Starbucks. Tiga guru bahasa
Inggris Zev Siegel, Jerry Baldwin, dan
Gordon Bowker membuka gerai
penjualan biji kopi beserta peralatan
pengolahannya di Pike Place Market,
Seattle, 31 Maret 1970. Tahun 1982,
masuk seorang direktur operasi dan
pemasaran bernama Howard Schultz.
Sepulang dari perjalanan ke Milan,
Italia, Schultz mengusulkan membuka
kedai kopi berbasis espresso. Ide ini
ditolak majikannya. Schultz
memutuskan meninggalkan
perusahaan tempat dia bekerja, lalu
membuka warung kopinya sendiri.

Hebatnya, Schultz akhirnya membeli
perusahaan milik majikan bekas dia
bekerja dulu, lalu mengganti nama
warung kopi itu menjadi Starbucks
tahun 1987. Dari sinilah ekspansi kedai
kopinya merebak ke seluruh dunia.

Tapi, lebih dari sekadar cerita untuk
memotivasi, saya tertegun karena
jalan pikiran yang begitu sederhana,
tetapi semangatnya luar biasa.
Kepolosannya memberi gambaran
bahwa kreativitas dan keberanian
untuk mengambil sikap seringkali
berpotensi membuahkan hasil lebih
baik daripada setiap kali hanya
menyesali nasib. Ada banyak orang
terperangkap dalam keputusasaan,
mengeluh tak berkesudahan terhadap
perusahaannya yang tidak memberi
kepuasan kerja, pimpinan yang sangat
egois, perusahaan yang tidak
memperhatikan karyawan sebagai
manusia, namun tidak banyak orang
berani mengambil keputusan untuk
segera meninggalkan perusahaan yang
dianggap tak layak menjadi tumpuan
hidupnya.

Anak tetangga ini juga memberi kontras lain karena hari-hari ini, banyak perusahaan besar berisi orang cerdik pandai, tergabung pada asosiasi dagang sangat terpandang, beberapa bahkan memakai konsultan terkenal, tetapi ketika harus menghadapi
persaingan dagang dengan negara tetangga, yang terjadi adalah ketakutan luar biasa dan semangat kalah sebelum perang.

Sember: kontan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: