Usaha Tanpa Modal, Tapi Beromzet Tinggi


atap-rumah-rumput-gajah-150x150.jpg

Bambu dan rumput gajah atau di kalangan masyarakat Sunda disebut Eurih menjadi sangat berharga di tangan Ade Su’eb (50). Selama sepuluh tahun terakhir, Ade merangkai dua bahan tadi menjadi atap rumah ramah lingkungan yang kini menjadi mata pencahariannya. Berbekal pengetahuan membuat atap eurih secara turun-temurun dari keluarganya, Ade mantap meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai tukang bangunan yang telah dilakoninya selama sepuluh tahun.

Usahanya berawal pada tahun 1990-an saat banyak orang mulai mencari atap eurih. ”Saat itu banyak orang yang ingin mengembalikan suasana rumahnya pada nuansa alami. Atap eurih ini adalah pelengkapnya,” kata Ade ketika ditemui di jongko sederhana miliknya di Kampung Batureog, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat.

Atap eurih buatan Ade berukuran satu meter dengan rumbai-rumbai cukup tebal. Untuk menutupi atap rumah diperlukan beberapa buah dan dirangkainya hingga menutup keseluruhan atap rumah. Ketahanannya bisa mencapai empat tahun dan kondisi terbaik produknya ini adalah ketika eurih sudah berwarna cokelat tua. Dalam satu hari, ia biasa merajut eurih sebanyak 50-70 buah. Kemampuan ini diakuinya didapat dari pengalaman masa mudanya. Waktu itu, ia sering melihat orang tua dan kerabatnya merangkai atap eurih. ”Pada zaman itu kan atap eurih sangat ngetren. Apalagi, untuk ukuran keluarga menengah seperti saya yang belum mampu memakai genting untuk atap rumah,” katanya

Sementara ini, konsumen atap eurih buatan Ade masih dari seputar Bandung. Dalam satu hari, sekitar dua ratus atap eurih bisa terjual dengan omzet hingga Rp 600.000 per hari. Rata-rata, konsumen menggunakan atap eurih untuk mempercantik kafe atau tempat usaha lainnya. Namun, sebagian pembeli menggunakannya untuk atap rumah tinggal dan saung-saungan di halaman.

Berbeda jauh dengan harga jualnya yang cukup tinggi, usaha atap eurih ini justru murah meriah. Ade bahkan tidak memerlukan modal awal untuk memulai usaha ini. Menurut dia, bahan eurih biasa didapat secara gratis, baik dari Subang maupun sekitar Dago. Namun, untuk satu mobil pick up eurih ia harus membayar ongkos pengiriman antara Rp150.000-Rp200.000. Dalam satu bulan, ia biasa meminta kiriman eurih sebanyak 5-7 kali, bergantung pesanan.

Ade menolak bekerja sama dengan pihak mana pun. Sebagai satu-satunya pembuat atap eurih di sepanjang Jalan Kolonel Masturi ini, ia belum percaya diri dengan permodalan usahanya. Ia khawatir, tidak sanggup menerapkan sistem dalam kerja sama karena merasa modalnya masih sangat minim. Ade mengatakan, menganyam eurih bisa dilakukan sambil bersantai.

Dibantu empat orang penganyam, Ade senantiasa setia dengan usaha ini. ”Masih ada anak bungsu saya yang butuh biaya sekolah,” katanya.
(rahmat saepulloh/ pr)

Sumber: karir-up.com

Comments
3 Responses to “Usaha Tanpa Modal, Tapi Beromzet Tinggi”
  1. djiesaka mengatakan:

    benar2 usaha tanpa modal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: