Mencipta Kesuksesan Bisnis Bersama Komunitas


daftar-social-bookmark.JPG
Gambar: opelangi.blogspot.com

Di hadapan perusahaan, komunitas konsumen kini tengah naik pamor. Banyak pemegang merek, penjual, distributor, pemasar, dan perusahaan memandang komunitas sebagai wahana untuk memperkuat merek sekaligus target untuk memasarkan produk mereka. Dengan sekali dayung, sejumlah pekerjaan dapat digarap serentak.

Untuk mempromosikan produk atau jasa, sebuah materi promo dapat menyebar cepat, berulang-ulang, dan beranak-pinak. Jika materinya memang menarik, anggota komunitas dengan senang hati menyampaikan materi itu melalui pesan pendek (SMS), blog, Facebook, Twitter, pendeknya koneksi yang mungkin melalui Internet dan mobile technology.

Kekuatan dua teknologi tersebut memang dahsyat dalam meneruskan kabar baik. Kabar buruk, apa lagi. Jika ada suatu produk dibeli konsumen, dan produk itu teryata cacat atau spesifikasinya tak seperti yang dijanjikan, penilaian negatif individu konsumen dengan cepat menyebar luas bagai virus.

Sisi positifnya, prinsip yang dulu dikenal sebagai “getok tular” kini berkembang menjadi kekuatan yang ampuh. Biaya promosi bisa dihemat berkat prinsip word of mouth ini. Konsumen juga aktif mengulas produk, dibaca oleh teman-temannya, dan niscaya efeknya agak berbeda dengan promosi murni dari produsen atau pemegang merek atau penjual.

Mengapa? Unsur pengalaman sudah masuk ke dalam ulasan konsumen. Namun ada unsur positif komunitas konsumen yang mulai dieksplorasi lebih dalam. Bukan hanya sebagai wahana dan sasaran pemasaran. Lebih dari itu, (komunitas) konsumen ditempatkan sebagai mitra dalam menciptakan (kembali) suatu produk.

Beranjak dari pengalaman menggunakan suatu produk, konsumen dapat memberi asupan bagi pengembangan, modifikasi, perbaikan produk tersebut.

Nokia tergolong perusahaan yang aktif mengambil prakarsa untuk tidak hanya meletakkan komunitas konsumen sebagai wahana dan target pemasaran. Perusahaan ini mencoba melibatkan komunitas untuk mengembangkan produknya, khususnya terkait dengan aplikasi mobile phone-nya. Kegiatan ini dilakukan antara lain bekerja sama dengan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.

Kerjasama yang dijalin, yakni pengembangan konten dan aplikasi, jelas memberi nilai plus pada Nokia. Bolehlah ini disebut sebagai implementasi konsep co-creation yang konkret. Komunitas konsumen tidak lagi berdiri di luar pagar, menjadi penonton para produsen yang asyik menciptakan beragam produk untuk mereka, lalu mereka membelinya dengan harga tertentu.

Lewat kerjasama ini, perusahaan mempraktekkan pula prinsip corporate social responsibility. Perguruan tinggi digandeng agar ilmunya berkembang, mendekati apa yang dibutuhkan pasar, dan agar mimpi-mimpinya tidak menggantung di awang-awang. Sekaligus ini tantangan apakah perguruan tinggi mampu menciptakan produk yang diminati pasar, atau berhenti pada prototipe.

Bagi komunitas developer peranti lunak, terang bahwa kerjasama ini membuka kesempatan bagi mereka untuk berinovasi. Mereka jadi lebih kenal apa yang dibutuhkan oleh pasar berbekal pengalaman sebagai pengguna produk. Inovasi tidak berhenti menjadi kata mati, yang hanya muncul di teks-teks buku.

Semangat entrepreneurship komunitas developer juga terasah. Pantang menyerah untuk menciptakan inovasi secara terus-menerus akan menjadikan komunitas yang selama ini berperan sebagai user saja, atau lebih jauh sebagai reviewer, berkembang menjadi developer yang aktif memahami pasar.

Mereka niscaya akan berusaha menjadi kreator yang sama pentingnya dengan produsen-aslinya. Pendeknya, dengan mempraktekkan co-creation bersama komunitas, sejumlah hal positif berlangsung serentak. Peribahasa lama, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampau, ternyata masih ampuh juga.

Dian R. Basuki, pemerhati soal-soal manajemen.

Sumber: Blog Tempo Interaktif

Comments
One Response to “Mencipta Kesuksesan Bisnis Bersama Komunitas”
  1. z4nx mengatakan:

    baguslah kalo komunitas diajak masuk ke produksi, jd bisa saling menguntungkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: