Ihwal Besar Berangkat Dari Kesederhanaan


Kembali ke laptop…!
Kata-kata ini diucapkan Tukul “Reinaldi Arwana” dalam setiap episode acara Bukan Empat Mata di Trans7. Ucapan ini selalu diikuti sorak sorai penonton, yang kemudian mengikuti gerakan tangannya. Tukul berangkat populer dari upaya menghina diri sendiri. Menghina diri sendiri karena bibirnya yang maju ke depan, karena kejelekan penampilannya, karena kekampungannya, karena keluguannya, dan karena sikapnya seperti orang bodoh.

Padahal, sebagai komedian, Tukul ternyata sangat cerdas, sangat tanggap, bahkan sama sekali jauh dari bodoh. Kalaupun mencoba berbahasa Inggris (dan tentu saja ditertawakan semua orang), idenya justru menunjukkan dia sangat layak dikagumi. Istilah ‘fly watch’ untuk mengatakan jam terbang, dan ‘shy shy cat’ untuk malu-malu kucing merupakan banyolan segar yang keluar dari model lawakan slapstick, yang sekadar mengandalkan lucu dengan tingkah kasar, konyol, atau sekadar memakai baju aneh.

Diferensiasi lawakan Tukul adalah eksplorasi dari gap antara apa yang diucapkan ternyata jauh dari kenyataan. Bayangkan ketika seorang Tukul menyebut dirinya berprofesi sebagai cover boy, atau mengaku lulusan Harvard University. Tukul juga tak segan mencela istrinya Susi Similikiti yang memasak kangkung warna ungu atau kerasnya ikan teri hingga mematahkan gigi.

Namun, tak dapat ditampik dengan gaya seperti ini, acara Bukan Empat Mata akan segera mencapai episode ke-400. Sebuah acara talk show televisi yang bertahan cukup panjang. Kepala produksi televisi mana pun akan berpikir dua kali untuk mencopot acara semacam ini.

Dan, tentu saja, semua ini menghasilkan suara gemerincing nyaring di pundi-pundi tabungan Tukul. Kristalisasi keringatnya menghasilkan pendapatan bulanan melewati gaji bulanan presiden direktur dan CEO di Indonesia.

Kesimpulan dari cerita Tukul tersebut adalah seringkali ikhwal besar justru berangkat dari barang-barang yang sangat sederhana. Manusia sering mengabaikan barang-barang kecil yang sepertinya tak berguna. Orang sering melecehkan barang yang kurang wah. Kita sering menghargai apa-apa yang terlihat gemerlap. Manusia lebih suka dekat-dekat dengan apa saja yang dianggap top dan jawara. Siapa saja, politisi, polisi, birokrat, direktur, orang tua, pemimpin perusahaan, dan kelompok masyarakat tertentu seperti hanya ingin mengurus hal yang kelihatan kinclong supaya dianggap sebagai orang hebat atau menjadi pahlawan.

Sialnya, banyak hal yang kelihatan hebat hari ini ternyata cuma gaduhnya saja. Esensi dan isi bisa jadi tak bermakna atau bahkan salah kaprah. Selain itu, hidup ini kadang tak perlu diisi dengan pikiran yang rumit walaupun tak dianggap intelek.

Banyak pengusaha sukses mendapatkan semua kemuliaan justru karena berangkat dari diferensiasi produk yang sederhana. Ilmuwan canggih justru dinilai hebat karena bisa membuat barang rumit menjadi sederhana.

Sebaliknya juga jangan salah. Orang bisa jatuh pula dari kebesarannya bukan karena batu besar, tetapi karena terpeleset oleh kerikil kecil. Jadi jangan pernah meremehkan ikhwal kecil. Satu langkah kecil pasti lebih baik daripada hanya bermimpi besar.

Sumber: Kontan

Comments
2 Responses to “Ihwal Besar Berangkat Dari Kesederhanaan”
  1. semoga kita dapat mengambil hikmah dr setiap detik waktu yang kita lalui…. amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: