Tentang Bisnis Keluarga Turun Temurun


Perusahaan-perusahaan yang dibangun pasangan suami-istri ini mampu berkembang, lalu diwariskan kepada anak-cucu mereka. Hebatnya, meski awalnya industri rumahan, banyak dari mereka yang mampu menjadi ikon daerah masing-masing.

Boleh dibilang, hampir setiap daerah di negeri ini memiliki perusahaan yang bisa dikategorikan sebagai mom and pop enterprise. Yakni, perusahaan yang dibangun dan dikembangkan oleh suami-istri, dan biasanya diturunkan atau diwariskan kepada generasi berikutnya. Di Semarang, contohnya, ada Toko Roti Oen dan Bandeng Juwana yang terkenal turun-
temurun sejak zaman baheula. Di Medan, ada Majestyk Bakery & Cake Shop yang kini berekspansi ke sejumlah daerah di Indonesia. Di Bandung, ada toko kue Kartika Sari dan Sus Merdeka. Di Surabaya, ada AJBS, toko mur dan baut yang kian bersinar setelah dipegang generasi ketiga. Di Jakarta tentu saja banyak, antara lain Bakmi Gajah Mada. Silakan, Anda pasti bisa menyebut nama-nama lain yang tak kalah kondang.

Memang, banyak dari mereka yang bisnisnya tumbuh pesat dengan omset yang kini mencapai puluhan miliar rupiah per tahun dan mempekerjakan ribuan karyawan. Namun, tak sedikit pula dari mereka yang tidak terlalu ambisius mengejar omset dengan berbagai pertimbangan. Toko Kopi Aroma dari Bandung, misalnya, tetap konsisten tak mau terlalu besar agar mutu produk tetap terjaga, dan demi menjaga keseimbangan hidup keluarga pemiliknya.

Apa pun alasannya, ciri khas yang melekat pada mom and pop enterprise – baik yang tumbuh pesat maupun yang moderat – adalah konsistensi mereka menekuni bisnis intinya sesuai dengan kompetensi yang diwariskan ayah-ibu atau kakek-nenek mereka. Kompetensi tersebut boleh dibilang unik karena tak semata keahlian dan keterampilan dalam hal produksi dan pemasaran, melainkan juga mengadopsi nilai-nilai serta manajemen dan suasana kerja yang dibangun generasi pendiri yang telah terbukti berhasil melanggengkan bisnis mereka.

Ciri khas lainnya, dalam pengelolaan bisnis, sentuhan keluarga masih sangat menonjol. Artinya, keterikatan hubungan seperti suami, istri, anak, menantu, bahkan cucu, masih sangat kental mewarnai dan memengaruhi pengelolaan perusahaan dan keputusan bisnis sehari-hari. Posisi-posisi penting dalam struktur manajemen perusahaan pun biasanya dipegang oleh para anggota keluarga.

Bagaimanapun, keberadaan mom and pop enterprise merupakan kekayaan yang luar biasa bagi lanskap perekonomian dan bisnis negeri ini. Mereka tumbuh secara alami, tidak tergantung pada sumber daya alam, serta berakar pada tradisi entrepreneurship yang kuat.

Hebatnya lagi, meskipun tanpa sengaja, banyak dari merek dagang yang awalnya mereka bangun secara sederhana dan apa adanya, belakangan mampu menjadi ikon daerah masing-masing. Ke Purwokerto, misalnya, kurang afdol rasanya kalau tidak membawa oleh-oleh Keripik Sawangan. Ke Medan, aneh rasanya kalau pulang tak menenteng Bika Ambon. Ke Yogyakarta, terasa kurang sreg kalau tak mampir ke Bakpia Pathok 25. Begitulah, tanpa bantuan konsultan branding yang kini mematok tarif selangit, mereka mampu menciptakan ikon-ikon daerah yang secara tak langsung membantu pertumbuhan industri pariwisata.

Sepak terjang mom and pop enterprise tak ubahnya buku-buku terbuka tentang entrepreneurship dalam arti yang sebenarnya. Kegigihan, ketekunan dan konsistensi mereka mengajarkan kepada khalayak bahwa membangun perusahaan bisa dimulai dari bisnis kecil-kecilan di rumah. Tak perlu mengeluhkan seretnya kucuran dana dari bank atau lembaga pembiayaan lainnya. Toh, dengan modal pas-pasan dari kantong sendiri dan kejelian memilih bidang bisnis yang betul-betul dikuasai, mereka berhasil membangun bisnis yang menguntungkan dan tetap eksis dari generasi ke generasi.

Bahkan, banyak dari mereka yang belakangan membuktikan diri mampu berekspansi ke berbagai daerah sehingga memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Kita tentu berharap bakal semakin banyak lagi lahir mom and pop enterprise baru di negeri ini.

Sumber: SWA

Comments
8 Responses to “Tentang Bisnis Keluarga Turun Temurun”
  1. darahbiroe mengatakan:

    pingin juga membuat suatu bisnis
    adari pada kerja ngikut orang mulu
    hikz hikz😀

  2. johan zeroseven mengatakan:

    semakin pingin jadi pengusaha gara2 tulisan ini…..🙂

  3. kawanlama95 mengatakan:

    Semoga ini menjadi inspirasi kita dalam membentuk karakter bisnis , agar kita mampu mengkosolidasikan hati perasaan , logika untuk mewujudkan mimpi kita menjadi seorang enterpreuneur. Semoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: