Resensi Buku: 100 Great Business Ideas


100-Great-Business-Ideas.jpg
Sumber: Tempo Interaktif
Peresensi: Dian R. Basuki
Penulis: Emily Ross, Angus Holland
Terbit : Maret 2009
Penerbit: Hikmah
ISBN: 978-979-114-253-3
Halaman: 344

Apa jawaban Anda bila diajukan pertanyaan seperti ini:
Mana yang lebih Anda sukai, ide yang hebat atau orang yang hebat?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita telusuri kisah-kisah bisnis yang diceritakan Ross dan Holland dalam buku ini. Bette Graham, seorang ibu yang bekerja sebagai sekretaris, sering pusing karena pita karbon mesin ketiknya kerap membuat pekerjaannya kacau. Ia kesal, sebab hampir mustahil menyingkirkan kesalahan ketik tanpa meninggalkan noda tinta pada kertas. Suatu ketika, Graham melihat tukang cat mengecat jendela bank. Ketika ada kesalahan pada pengecatan dekorasi jendela, noda itu ditutup dengan cat putih. “Mengapa aku tidak melakukan hal serupa?” tanya Graham. Dia mencoba cat tempera putih berbahan dasar air dan kuas tipis untuk menutup kesalahan ketiknya. Berhasil! Ia menamai temuannya itu Mistake
Out. Lima tahun lamanya Graham menyimpan rahasia temuannya itu untuk dirinya sendiri sampai akhirnya kawan-kawannya sekantor mengetahui itu. Naluri bisnisnya berjalan. Ia jual Mistake Out kepada rekan sekantor. Di tahun 1957, ia menjual 100 botol dalam sebulan dan mengganti nama produknya jadi Liquid Paper. Lima belas tahun kemudian, perusahaan yang ia dirikan menjual lima juta botol tiap tahun dan terus meningkat saban tahun.

Banyak perusahaan besar yang berawal dari gagasan kecil, seperti Liquid Paper, dan mesti menempuh jalan berliku untuk sampai ke puncak. James Dyson, contoh lainnya, menghabiskan 3,5 tahun untuk membangun 5.127 buah prototipe vacuum cleaner hingga akhirnya berhasil membuat alat itu bekerja dengan baik. Ia, seperti juga pengembang Kettle Chips–kriping kentang berbumbu–bahkan harus bertarung dengan merek-merek lain yang dikeluarkan perusahaan besar.

Tapi ada pula yang dengan cerdik mengadopsi ide orang lain. Dietrich Mateschitz mengubah tonik menyehatkan asal Thailand, si kerbau air merah alias Krating Daeng, menjadi manis dan berbuih yang cocok untuk orang-orang Austria. Ia lalu mengemasnya dalam kaleng ramping dengan merek Red Bull dan menjadikannya “minuman cerdas” yang diklaim dapat meningkatkan kinerja seseorang. Di tahun 2006, penjualannya mencapai 3,5 miliar dolar AS dan perusahaannya terus berekspansi.

Michael Dell adalah contoh klasik orang yang meraih sukses dengan mengambil ide yang sudah ada dan mengeksekusinya dengan lebih baik. Dell berhasil menembus industri yang memuja inovasi tanpa membuat inovasi dengan tangannya sendiri. Dia mulai membangun komputer rakitan di kamar kosnya dan menjualnya dengan harga relatif murah melalui pos. Kini, siapa tak kenal komputer Dell?
Sergey Brin dan Larry Page melakukan inovasi serupa dan Google-nya sukses menyaingi mesin pencari yang lebih dulu ada, seperti Yahoo!, Alta Vista, dan Lycos.

Namun, penemu gagasan tak selalu beruntung. Coco Chanel, salah satunya. Ketika parfum pada umumnya dibuat dengan satu jenis bunga, Coco menemukan ramuan parfum yang luar biasa: hasil perpaduan beberapa jenis bunga dan lahirlah Chanel No. 5. Modal terbatas membuat langkahnya tersendat. Ia terpaksa berkongsi dengan keluarga Pierre Wertheimer, yang mempunyai infrastruktur untuk memproduksi parfum berskala besar. Sejarah menunjukkan, Chanel yang menelurkan ide, keluarga Wertheimer yang menikmati kekayaan, bahkan hingga cucunya yang sekarang.

Ross dan Holland memilah-milah kisah sukses perusahaan ini atas dasar “sejarah dan kecenderungannya”. Ini memudahkan pembaca untuk memahami apa yang membuat produk tertentu sukses: handphone Nokia berhasil di pasaran karena kekuatan adaptasi modelnya, Starbucks berevolusi dari hanya sebuah toko penjual biji kopi, dan Coca Cola baru berjaya setelah dikemas dalam botol–di masa-masa awal, penjualan terbanyak Coca Cola dalam sehari adalah 13 gelas, saat ini sekitar 12.600 kemasan setiap detik.

Buku ini menghimpun karya seni tentang bagaimana mengubah ide menjadi bisnis yang hebat. Keberanian mengambil risiko oleh para kreator dan inovator ini tak habis-habis diceritakan. Setelah ditolak Hewlett-
Packard, Steve Wozniak menunjukkan model komputer buatannya kepada Steve Jobs, yang segera mengendus potensi luar biasa bila ia bermitra bisnis dengan Wozniak. Mereka mendirikan Apple saat Jobs berusia 21 tahun dan Wozniak lima tahun lebih tua. Jobs menjual mobil van VW miliknya dan Wozniak menjual kalkulator Hewlett-Packard kesayangannya agar dapat membiayai desain pertama Apple I.

Nah, kini saatnya kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini: Mana yang lebih Anda sukai, ide yang hebat atau orang yang hebat? Ed Catmull, Presiden Pixar Animation Studios, pernah diberi pertanyaan serupa, dan ia menjawab: “Orang yang hebat, karena jika Anda memberi ide yang baik kepada orang yang salah, mereka akan mengacaukannya. Jika Anda memberi ide yang keliru kepada orang yang tepat, mereka akan meluruskannya.”Dian R. Basuki
(ResensiBuku.com)

Sumber: Majalah Peluang Bisnis

Comments
4 Responses to “Resensi Buku: 100 Great Business Ideas”
  1. milimeterst mengatakan:

    buku nya jadiiin PDF … biar kita bisa donload ..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: